Search

Tahap-tahap Menulis Skenario Film : #2 LOGLINE

Updated: Apr 21

Setelah di artikel sebelumnya kita belajar tentang penggalian ide, maka selanjutnya

setelah kita punya ide, kita perlu mengenali ide itu. Apakah itu adalah ide yang cocok untuk dikembangkan menjadi film? Perlu diketahui bahwa tidak semua ide yang bagus itu cocok untuk dikembangkan menjadi film. Yang harus digarisbawahi adalah bahwa film itu visual. Kalau punya ide bagus, tapi tidak visual, misalnya ide itu cuma berupa kata-kata yang indah, mungkin kurang cocok untuk jadi film, mungkin lebih baik bikin puisi saja.

Kita perlu memahami juga bahwa bahasa film adalah bahasa peristiwa. Di sini kita menyampaikan gagasan dengan menghadirkan peristiwa. Maka, ide yang pas untuk difilmkan adalah ide yang berupa rangkaian peristiwa, yang didalamnya ada pelaku dan ada aktivitas. Ada aksi dan reaksi yang dihadirkan di layar.

Jika kita punya ide tentang pergulatan pikiran para tokohnya yang sangat abstrak dan rumit, mungkin novel adalah bentuk yang tepat, karena di dalam novel kita bisa menuliskan secara langsung apa yang dipikirkan oleh para tokoh. Tetapi film berbeda, apa yang dipikirkan oleh tokoh harus diwujudkan dalam aktivitas. Di dalam film, kalau kita ingin menyampaikan apa yang tersimpan di dalam hati seseorang, maka itu harus diwujudkan melalui peristiwa, melalui gambar-gambar.

Saya sudah menggarisbawahi dua hal penting di artikel part 1, yaitu TOKOH, dan PERSOALANnya. Jika dua hal itu belum ketemu maka akan sulit untuk kita bisa melangkah ke tahap selanjutnya. Ketika itu sudah ketemu, kita bisa menambahkan poin ketiga yaitu KEINGINAN tokohnya. Ini sangat penting penting karena keinginan adalah sesuatu yang menggerakkan tokoh, dan pada akhirnya tokoh yang berkeinginan ini bisa menggerakkan cerita. Jika tokohnya tidak punya keinginan, maka cerita tidak bisa berjalan.

Singkatnya, ide bisa dianggap siap untuk dikembangkan lebih lanjut, jiga kita sudah menemukan tiga hal, yaitu siapa tokohnya, apa persoalan yang dihadapi, dan apa keinginannya.

Semisal Anda menemukan gagasan yang sangat rumit, tetapi belum bisa merumuskan dengan jelas apa inti persoalannya, maka bisa dikatakan bahwa ide Anda itu masih mentah, atau belum siap.

Contoh ide yang belum siap itu begini:

"Saya mau buat film perang. Perang dunia pertama. Di film ini ada tentara inggris, terus ada tentara jerman. Perangnya seru gitu deh. Nanti kameranya itu long take gitu ngerekamnya. Tentara inggris garda terdepan mau nyerang jerman, tapi akhirnya gak jadi karena khawatirnya jatuh korban. Terus visual efeknya nanti kita bikin yang serem gitu. Pokoknya keren deh."

Tentu saja ide itu belum siap. Di situ belum jelas siap tokohnya, apa keinginan tokohnya dan apa masalahnya. Banyak sekali calon filmmaker atau penulis naskah pemula menceritakan idenya dengan cara semacam itu, bicaranya berputar-putar tapi tidak jelas apa inti ceritanya.

Perlu diketahui bahwa gagasan tentang perang seperti yang disebut di atas, itu baru latarnya. Belum menyentuh ide pokok cerita. Artinya idenya belum siap. Kalau mau lebih jelas, kita harus bisa lebih fokus. Yaitu fokus pada tokohnya, masalahnya, dan keinginannya.

Ide yang sudah siap itu contohnya begini:

"Cerita tentang kopral Inggris yang menjalankan tugas menyampaikan pesan kepada pasukan di garda depan untuk menghentikan serangan dalam rangka mencegah jatuhnya banyak korban. Perjalanan menemui pasukan garda terdepan ini harus melewati wilayah musuh yang sangat membahayakan nyawanya."



Contoh yang tertulis di atas diambil dari cerita film 1917. Ide tersebut sangat jelas. Jelas tokoh utamanya: seorang kopral Inggris. Jelas keinginan tokohnya: ia menjalankan tugas menyampaikan pesan kepada pasukan di garda terdepan. Hambatan dan persoalan yang dihadapi juga jelas, yaitu perjalanan menemui pasukan garda terdepan ini harus melewati wilayah musuh yang sangat membahayakan nyawanya. Maka di sini potensi dramanya jelas, dan ini akan memicu rasa penasaran penonton; bisakah sang tokoh ini sampai di garda depan dengan selamat, sementara ia harus melalui wilayah yang sangat berbahaya?



Saya tegaskan lagi, ada tiga hal pokok yang perlu kita tentukan dengan jelas, yaitu:

1. Siapa tokohnya?

2. Apa persoalan yang dihadapi tokoh?

3. Apa yang diinginkan tokoh?

Ketika kita bisa menentukan ketiganya, dan bisa menyampaikannya itu semua dalam satu kalimat, maka itu bisa kita sebut sebagai LOGLINE. Logline adalah inti dari seluruh cerita. Logline menjadi pondasi yang paling dasar bagi bangunan cerita yang lebih kompleks.

Dalam contoh yang saya sampaikan tadi maka loglinenya adalah seperti ini:

"Cerita tentang kopral Inggris yang menempuh perjalanan berbahaya melewati wilayah musuh untuk menyampaikan pesan kepada pasukan di garda depan agar menghentikan serangan dalam rangka mencegah jatuhnya banyak korban."



Setelah berhasil merumuskan logline, maka tahap selanjutnya adalah menuliskan sinopsis. Bagaimana cara menuliskannya? Akan saya bahas di artikel selanjutnya.

0 views

©2020 by BW Purbanegara.