Search

Tahap-tahap Menulis Skenario Film : #4 TREATMENT


Setelah di artikel sebelumnya kita membahas sinopsis, maka kali ini kita akan bicara tentang treatment.

Apa itu treatment?

Treatment adalah tulisan yang berisi pemaparan mendetail atas kerangka cerita film dari awal sampai akhir, yang memuat semua adegan penting, sequence, dan poin-poin cerita, yang dituliskan dalam bentuk prosa. Ini adalah tahapan satu langkah sebelum menuliskan skenario. Di dalam treatment ini, kita belum menuliskan dialog, akan tetapi yang penting di sini adalah rangkaian ceritanya tergambar dengan jelas. Jelas dari openingnya bagaimana, perkenalan tokoh dan perkenalan masalahnya seperti apa, kemudian apa saja yang dilakukan tokoh untuk mengatasi masalah, peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi, apa saja hambatan-hambatan yang dialami tokoh, ada peristiwa dramatis apa saja, bagaimana klimaks dramatiknya, dan sampai pada bagaimana endingnya.

Sebaiknya dalam menulis treatment ini, kita sudah mempunyai rancangan struktur cerita yang jelas. Struktur di sini berkenaan dengan bagaimana elemen-elemen cerita itu disusun dalam tata urutan tertentu.

Dengan menuliskan treatment, maka penulis bisa mempresentasikan rancangan cerita ke produser. Penulisan treatment juga merupakan suatu cara untuk menguji kekuatan cerita kita, sebelum kita mengalokasikan waktu dan energi yang besar dalam menuliskan skenario yang mendetail.

Dengan treatment, kita bisa mengukur kekuatan alur cerita, bagaimana plotnya, bagaimana struktur ceritanya. Dan di sini kita juga bisa mengoreksi apakah ceritanya sudah solid, atau apakah masih ada bagian-bagian cerita yang bolong, apakah rangkaian sebab akibatnya sudah logis? dan lain sebagainya. Kalau ternyata masih banyak bagian cerita yang gak nyambung, kita revisi dulu treatmentnya. Setelah berhasil merumuskan treatment yang solid, barulah kita masuk ke tahap selanjutnya, yaitu menuliskannya dalam format skenario.

Untuk bisa membuat treatment yang bagus, kita perlu memahami pengetahuan tentang struktur cerita film. Bicara soal struktur, yang paling banyak dipakai orang adalah struktur tiga babak. Di sini kita membagi cerita menjadi tiga bagian: awal, tengah, dan akhir. Atau bagian satu, bagian dua, dan bagian tiga.

Pada bagian satu film dimulai dengan memperkenalkan siapa tokohnya, dan menunjukkan tokoh ini hidup di lingkungan yang seperti apa, atau dunia yang seperti apa? Ini bisa dimulai dengan menceritakan kehidupan normal karakter, yang kemudian dilanjutkan dengan munculnya masalah, sebuah kejadian pemicu yang memaksa tokoh untuk meresponnya. Pada intinya bagian pertama ini berisi tentang tokoh dan masalahnya.

Kemudian ketika tokoh memiliki keinginan untuk menyelesaikan masalah itu dan melakukan sebuah upaya, maka kita masuk ke bagian kedua. Bagian kedua berisi tentang bagaimana perjuangan tokoh dalam negatasi masalah, yang dihadang oleh suatu rangkaian hambatan. Perjuangan tokoh dan hambatan yang dihadapi, ini adalah dua hal yang sangat menentukan dramatis atau tidaknya sebuah cerita. Kedua hal ini akan mengambil porsi yang paling panjang dalam hal durasi. Bagian dua adalah memang bagian terpanjang dari struktur tiga babak. Dan kalau mau membuat tangga dramatik yang semakin naik dari waktu ke waktu, maka persinggungan antara perjuangan tokoh dan hambatan yang dihadapi perlu dibuat adanya jenjang dramatik dari yang rendah dan berubah menjadi semakin tinggi dan semakin tinggi. Hambatan yang muncul semakin besar dan semakin besar, dan mencapai klimaksnya di akhir bagian kedua.

Kemudian bagian ketiga memuat tentang perjuangan akhir yang dilakukan oleh si tokoh melawan hambatan yang memuncak. Dan setelahnya akan diceritakan bagaimana hasil perjuangan tokoh. Dan di sini akan ada tiga kemungkinan hasil, yaitu: happy ending, sad ending, atau menggantung.

Struktur seperti yang saya sampaikan ini adalah bentuk paling konvensional. Tentu saja ada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Tetapi kalau kalian masih awal belajar menyusun cerita, saya sarankan untuk menggunakan struktur yang seperti ini dulu. Nanti kalau sudah mahir, kalian bisa bereksperimen dengan pola-pola struktur yang lain. Kalian boleh saja bercita-cita untuk 'out of the box', tapi agar bisa seperti itu, tentu saja kalian harus mengenal apa yang ada di dalam box.

Kembali ke tahap-tahap penulisan, setelah kita selesai dan yakin dengan rancangan struktur yang kita tuliskan dalam treatment, maka itu saatnya untuk melanjutkan proses kreatif ke tahap berikutnya; yaitu menuliskannya dalam format skenario.

Saya akan menjelaskannya format penulisan skenario di artikel berikutnya.

0 views

©2020 by BW Purbanegara.