Search

Tahap-tahap Menulis Skenario Film: #1 MENCARI IDE

Ketika kita akan membuat sebuah film, maka yang pertama harus kita temukan adalah ide. Jauh sebelum kita menentukan segala kebutuhan teknis, yang pertama harus kita pastikan adalah apa gagasan yang akan kita sampaikan. Meskipun kita punya peralatan perfilman yang secanggih apapun tapi kalau tidak ada ide, maka kita tidak mungkin bisa membuat film. Apa yang mau difilmkan, kalau idenya tidak ada. Sebaliknya jika kita memiliki ide yang luar biasa, maka meskipun alat yang kita pakai sangat sederhana, kita tetap bisa membuat karya film yang bagus. Intinya, ide adalah sesuatu yang sangat mendasar. Maka ini jadi penting untuk kita bahas paling awal.




Dari manakah datangnya ide? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.

Karya seni yang baik adalah hasil refleksi seorang seniman atas diri dan lingkungannya. Ini berlaku untuk seni apapun, termasuk film. Bicara refleksi atas diri, maka kita membicarakan manusia, oleh karenanya kita harus memahami tentang hidup manusia, dan kita bisa mengawalinya dengan mencoba mempelajari manusia yang terdekat dengan diri kita.

Siapakah itu? Siapa lagi kalau bukan diri kita sendiri.

Apa yang kita rasakan, sesungguhnya bisa menjadi sumber ide yang luar biasa. Jadi dalam hal ini, perasaan itu sangat penting dalam sebuah proses kreatif. Selama kita masih hidup, perasaan itu pasti ada. Mungkin yang jadi permasalahan adalah kadang kita tidak memiliki kepekaan untuk menyadari apa yang kita rasakan.

Perasaan demi perasaan muncul di dalam diri kita, dan kita sering membiarkannya berlalu begitu saja. Padahal di sebenarnya sana ada sumber ide. Perasaan apapun yang kita rasakan di dalam hidup, bisa kita pakai sebagai pintu gerbang untuk memulai proses kreatif. Contohnya perasaan sedih karena orang yang sangat dekat dengan kita meninggalkan kita, bisa jadi sumber ide cerita tentang perpisahan. Perasaan senang ketika melihat hal-hal yang konyol, bisa jadi sumber ide film komedi. Perasaan takut bisa menjadi sumber ide untuk jenis cerita horor. Perasaan jatuh cinta, cemburu, patah hati bisa jadi sumber cerita drama remaja.

Intinya, perasaan apapun bisa menjadi sumber ide cerita film. Perasaan itu selalu mengarah pada sesuatu. Perasaan selalu berarti perasaan tentang sesuatu. Perasaan tidak muncul begitu saja, tetapi selalu merupakan respon atas sebuah rangsangan tertentu. Perasaan sedih tidak muncul tiba-tiba, tapi pasti ada penyebabnya, misalnya kita kehilangan uang, kehilangan orang yang ktia sayang, atau kita tidak kehilangan tapi kita melihat orang lain yang sedang kehilangan, itu juga bisa membuat kita ikut merasa sedih. Begitu juga dengan perasaan-perasaan lainnya. Perasaan senang, perasaan kagum, marah, benci, empati, dan lain sebagainya pasti merupakan suatu respon dari sesuatu. Perasaan kesepian? Itu adalah respon dari situasi di mana kita berada dalam kesendirian.

Sumber ide ada di mana-mana, di setiap waktu ketika kita mengalami berbagai perasaan dalam berbagai situasi pasang surut kehidupan. Tetapi gak bisa dipungkiri bahwa kadang-kadang ide kita mentok. Maka pertanyaannya, bagaimana cara memunculkan ide?

Karena perasaan sebagai sumber ide adalah respon dari suatu rangsangan, maka pencarian ide perlu melibatkan aktivitas mencari rangsangan. Carilah sesuatu yang bisa merangsang perasaan.

Upaya ini bisa kita lakukan dengan berbagai macam cara. Mengobrol dengan orang lain adalah salahsatu caranya. Cara yang lain kita bisa juga jalan-jalan ke tempat baru, dan mengamati orang-orang yang ada di sana. Bisa di pasar, di terminal di mall, atau di manapun. Coba amati dengan detail orang-orang yang ada di sana. Jangan hanya sambil lalu tapi amati dengan penuh perhatian.

Misalnya kita duduk di pinggir jalan dan lihat tukang bakso lewat. Raut mukanya tampak sangat sedih. Coba rasakan kalau kita yang menjadi tukang bakso itu. Rasakan kesedihannya, kemudian coba tambahkan sedikit bumbu imajinasi. Mungkin ada cerita yang bisa muncul dari situ. Semisal, bayangkan ketika dia punya anak yang masih sangat kecil, dan stok susu sudah habis, sementara hari itu dia tidak mendapat cukup uang untuk membeli susu. Apa yang terjadi ketika dia pulang nanti. Apakah istri di rumah akan menyambutnya dengan senyum, atau marah karena ia gagal mendapat uang. Dan seterusnya ... dan seterusnya ... itu bisa dikembangkan menjadi cerita.

Kalau saya boleh berbagi pengalaman, sebenarnya ide-ide film saya pun sering lahir dari hal-hal yang semacam itu, pengamatan sederhana yang ditambah imajinasi.

Dulu saya suka berpetualang, naik turun gunung, jalan ke desa-desa, dan sering bertemu dengan orang orang berusia lanjut yang masih sangat perkasa untuk naik turun bukit. Ototnya masih kuat meskipun kerut wajahnya sudah menunjukkan bahwa usianya sudah 80 tahun lebih. Sesekali saya mencoba untuk mendengarkan cerita-cerita mereka, dan kadang-kadang saya merasa tersentuh ketika sebagian dari mereka menceritakan pengalaman hidup di masa lalu. Saya sangat terkesan dengan orang-orang lanjut usia itu, dan itu menjadi sumber ide untuk saya mengembangkan skenario film berjudul Ziarah.






Film Ziarah bercerita tentang mbah Sri, seorang nenek berusia 95 tahun yang menempuh perjalanan panjang mencari makam suaminya yang hilang di masa perang kemerdekaan.

Tujuan pencarian ini sederhana saja, ia ingin dimakamkan di samping orang yang paling dicintainya. Film ini diperankan oleh mbah Ponco, seorang nenek dari Gunung kidul. Dia bukan aktor profesional, melainkan orang biasa yang sehari-harinya bertani di ladang di desanya, di wilayah kecamatan Ngawen Gunung kidul.




Ketika diputar di bioskop, banyak penonton yang merasakan simpati terhadap si nenek di film ini, yang sudah sangat sepuh. Dan kalau ditelusuri ke belakang, sebenarnya awal penulisan skenario film ini juga dimulai dari perasaan simpati saya terhadap orang-orang desa lanjut usia. Ada kaitan antara perasaan si pembuat film, dengan perasaan penonton ketika melihat film itu. Ketika kita ingin membuat penonton merasakan sesuatu, maka pertama-tama kita sebagai pembuat harus merasakan dulu perasaan itu.

Film Ziarah yang saya ceritakan tadi hanya satu contoh. Masih banyak contoh-contoh yang lainnya, yang intinya adalah bahwa pengembangan ide bisa berangkat dari apa yang kita rasakan.

Kalau perasaan kita sedang terlalu flat sehingga ide buntu? Bagaimana? Cobalah pergi ke tempat-tempat baru, dan cari sesuatu yang bisa menggugah perasaan. Di sana sumber ide bertebaran, hanya menunggu kepekaan kita untuk bisa memetiknya.

Tetapi persoalannya, bagaimana kalau kita sedang berada pada situasi di mana tidak memungkinkan untuk bepergian? Misalnya karena adanya pandemi covid19 seperti sekarang ini ketika tulisan ini dibuat. Tentu saja kita tetap bisa melakukan penggalian ide di rumah. Yang terpenting adalah mencari sesuatu yang bisa membuat perasaan kita tergerak. Ada beberapa hal yang bisa kita coba lakukan.

Yang pertama adalah menonton film. Bukan untuk kita meniru ceritanya, apalagi menjiplak, dan jangan lakukan itu! Menonton film di sini sebagai pancingan saja, karena film yang kita tonton bisa membuat perasaan kita tergerak. Film bisa memancing perasaan kita. Ketika sudah terpancing, lanjutkan dengan imajinasi kita sendiri.

Yang kedua adalah mengobrol bersama teman. Bisa lewat telpon atau videocall, aplikasi chatting, atau apapun. Telepati juga boleh, kalau kalian cukup sakti. Tidak harus ngobrol tentang film, tapi bisa apa saja.

Ide cerita bisa muncul dari obrolan sederhana. Akan lebih baik kalau kalian mengobrol dengan orang yang sudah lama tidak bertemu. Mengapa? Dengan teman yang lama tidak bertemu, di situ lebih berpeluang untuk kita menemukan hal baru yang kita belum tahu sebelumnya. Kalo sama orang yang tiap hari ketemu ya pastinya kita udah hapal. Tapi sama teman yang lama tidak bertemu, biasanya lebih banyak kejutan. Serius! Coba saja kalau tidak percaya.

Misalnya kalian mengobrol denga temen SD, yang sangat lama tidak bertemu, tidak tahu dia tinggal di mana, tidak tahu kerja di mana. Cuma tau kontak fesbuknya, kemudian dikontak, ngobrol dan dia bercerita bahwa sekarang dia punya peternakan kuda. Wow, itu bidang yang samasekali tidak pernah kita pikirkan. Mungkin kita penasaran, dan kita bisa mendengar cerita dari dia tentang suka duka peternak kuda. Atau teman kita seorang dokter yang menangani pasien corona. Atau dia adalah orang yang baru sembuh dari corona. Atau dia adalah penjual jamu yang dulu tidak laku, tapi sekarang omsetnya luar biasa gara-gara adanya pandemi. Mungkin itu bisa menginspirasi kita untuk menemukan tokoh untuk cerita kita. Kemudian ketika dia bercerita tentang masalah-masalahnya, saya yakin itu bisa memancing ide-ide cerita selanjutnya.

Ide cerita itu bisa berkembang ketika kita menemukan TOKOH CERITA dan PERSOALAN yang dihadapi. Semakin unik semakin berpotensi untuk bagus. Tokoh yang unik yang menghadapi persoalan yang unik, itu akan bisa menarik. Ngobrol dengan teman bisa menjadi cara untuk kita bisa menemukan ide tentang tokoh yang unik dan juga persoalan-persoalan yang unik.

Tahap awal pengembangan ide cerita harus fokus untuk menemukan dua hal. Yang pertama TOKOHnya siapa, yang kedua PERSOALANnya apa. Itu saja, sesederhana itu. Semakin unik tokohnya dan semakin unik persoalannya, maka itu berpotensi menjadi semakin menarik.

Dalam berbagai kesempatan workshop film, pelatihan penulisan skenario film, atau ketika saya mengajar di kampus, kadang-kadang ada murid dampingan yang mengatakan bawa dia punya ide cerita, tetapi ketika saya tanya lebih lanjut, ternyata dia belum bisa mengatakan dengan jelas tentang siapa tokohnya dan apa persoalannya. Dia justru mengatakan tentang visual efeknya, tentang tema besarnya, atau tentang sebuah situasi sosial yang terlalu umum. Untuk kasus semacam ini, saya anggap dia belum punya ide cerita. Kapan seseorang saya anggap sudah menemukan ide cerita? Ketika dia sudah bisa mengatakan siapa tokohnya dan apa persoalan yang dihadapi tokoh itu. Jika belum, maka itu hanya baru lamunan saja.

Sumber cerita yang bagus ada di mana-mana. Ada banyak manusia-manusia unik di sekeliling kita, ada banyak persoalan-persoalan menarik di sekeliling kita. Hanya menunggu kepekaan kita untuk menangkapnya, dan mengembangkannya menjadi cerita.

Jika kita sudah memiliki ide, maka tahap berikutnya yang perlu kita lakukan adalah mempertajamnya, dan merumuskan logline. Apa itu LOGLINE? Saya akan jelaskan di artikel berikutnya.

383 views

©2020 by BW Purbanegara.